Teladan Dalam Memperlakukan Orang Lain
Kalangan Sendiri

Teladan Dalam Memperlakukan Orang Lain

Lori Official Writer
      74

Yohanes 13:14-15

"Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu."

 

Pernahkah Anda membasuh kaki orang lain, seperti yang Yesus lakukan? Mungkin Anda akan berpikir, "Waduh, di zaman ini mana mungkin ada yang melakukan seperti itu." Ya, mungkin di masa ini ritual demikian terbilang jarang kita temukan, setidaknya masih dilakukan di tengah keluarga seperti anak membasuh kaki orang tuanya. Tapi apa yang dilakukan Yesus kepada murid-muridnya adalah sebuah gambaran teladan yang harusnya  menyentil kesadaran kita, bahwa "Tuhan saja bersedia memposisikan diri-Nya paling rendah dan melayani semua orang." Karena di zaman itu, membasuh kaki biasanya dilakukan para pelayan. 

Yesus menegaskan bahwa di dalam Kerajaan  Allah, seseorang tidak dinilai dari gelar, posisi, atau prestasinya. Melainkan dari kesediaannya melayani orang lain dalam kasih dan kerendahan hati. Ini adalah teladan yang Yesus tinggalkan bagi kita. Seperti disampaikan, "Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu." (Yohanes 13: 14-15). 

Apa yang perlu kita pelajari dari pesan ini? Jika seminggu yang lalu kita belajar bagaimana kasih Tuhan yang tanpa syarat memberikan kita pengampunan, sekarang kita belajar satu teladan lain yang Ia tinggalkan untuk kita hidupi setiap hari: memberi diri untuk melayani. Artinya, tidak peduli posisi kita lebih tinggi atau pencapaian kita lebih banyak, identitas kita tetap sama—menghidupi teladan Kristus, yaitu bersedia “membasuh kaki orang lain.”

Seringkali tanpa sadar kita ingin dihargai, diakui, dan ditempatkan di posisi yang “layak” menurut kita. Namun Yesus justru menunjukkan jalan yang berbeda—jalan yang memilih turun, bukan naik; melayani, bukan dilayani. Di situlah hati kita dibentuk semakin serupa dengan Dia.

Pertanyaannya bukan lagi, “Apakah saya mau membasuh kaki orang lain?” tetapi, “Di mana Tuhan sedang mengundang saya untuk merendahkan hati dan melayani hari ini?" Bisa jadi lewat hal sederhana seperti mendengarkan orang yang sedang butuh didengar, menolong tanpa diminta, mengampuni tanpa menunggu, atau mengambil peran yang tidak terlihat tetapi menyentuh hidup orang lain cukup dalam.

Saudara, jalan salib selalu dimulai dari hati yang mau merendah.

 

Action Praktis:

Pikirkan seseorang yang bisa Anda layani atau tolong hari ini - entah mereka sedang membutuhkan bantuan atau Anda memang memandang orang ini perlu dilayani. Lakukanlah dengan diam tanpa perlu memberitahukan niat ini kepada siapapun (Matius 6: 3). 

Selamat berpraktek. Tuhan Yesus Memberkati.

 

Ikuti Kami